Rabu, 11 Februari 2009

Prospek dan Kendala Pengembangan Kedelai pada Lahan Non Sawah/Lahan Marjinal

Sukarman, Irsal Las dan Achmad Hidayat
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

ABSTRAK

Kedelai telah menjadi salah satu komoditas strategis setelah padi dan jagung karena dibutuhkan dalam jumlah yang besar dan sudah menjadi bahan baku industri. Selama ini produksi kedelai nasional sebagian besar masih bertumpu di lahan sawah. Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai di lahan sawah melalui perluasan areal tanam tidak dapat dioptimalkan karena dapat menggangu produksi padi. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi kedelai adalah melalui perluasan areal tanam di lahan kering non sawah/lahan marjinal. Lahan marjinal merupakan salah satu sumberdaya lahan yang prospektif untuk mendukung pengembangan kedelai, karena masih cukup luas meskipun mempunyai keragaman tingkat potensi yang besar, yaitu dari berpotensi tinggi sampai berpotensi rendah. Diperkirakan masih terdapat sekitar 6,1 juta ha lahan kering yang dapat dimanfaatkan untuk perluasan areal tanam kedelai, yaitu pada tegalan sekitar 0,5 juta hektar dan pada semak, alang-alang dan hutan belukar sekitar 5,6 juta ha. Namun lahan ini pemanfaatannya berkompetisi dengan penggunaan lain baik dengan komoditas pertanian non kedelai maupun dengan non pertanian. Lahan-lahan yang tersedia tergolong jenis tanah Inceptisols, Ultisols, Oxisols dan sedikit Mollisols dan Alfisols. Lahan-lahan tersebut mempunyai kesuburan rendah, bereaksi masam atau terlalu basis, dan berbahan organik rendah. Dalam pemanfaatannya memerlukan teknologi pengelolaan lahan yang optimal, yaitu melalui tindakan konservasi tanah, pengelolaan air, ameliorasi, pengelolaan bahan organik dan pengelolaan hara.

Makalah disampaikan dalam : Lokakarya Kedelai Nasional, Malang 26-27 Juli 2008. Kerjasama Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya dengan Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar