Rabu, 11 Februari 2009

Evaluasi Sifat-sifat Tanah pada Landform Aluvial di Tiga Lokasi di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah

Hikmatullah dan Sukarman
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

ABSTRAK

Landform aluvial di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah merupakan lahan pertanian utama, akan tetapi informasi sifat-sifat tanahnya belum banyak diteliti dan dipublikasikan. Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi sifat-sifat fisika, kimia dan komposisi mineral tanah pada landform aluvial serta potensi kesuburannnya untuk pertanian. Sebanyak 5 pedon dari Lembah Palu, 5 pedon dari pantai utara dan 4 pedon dari pantai barat, Kabupaten Donggala telah dipilih untuk dianalisis di laboratorium. Pedon-pedon tersebut mewakili grup tanah dominan yaitu Ustifluvents, Haplustepts, Eutrudepts, dan Endoaquepts. Untuk mengetahui adanya perbedaan sifat-sifat tanah antar lokasi dilakukan uji berpasangan, sedangkan untuk membandingkan pengaruh kadar liat dan C-organik terhadap kapasitas tukar kation (KTK) tanah dilakukan dengan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah-tanah di tiga lokasi tersebut mempunyai tekstur bervariasi dari pasir berlempung sampai lempung liat berpasir, pH agak masam sampai agak alkalis, C-organik rendah sampai sangat rendah, kadar P2O5 dan K2O (ekstrak HCl 25%) tinggi, P2O5 tersedia (ekstraksi Olsen) sedang sampai tinggi, KTK tanah rendah, KTK liat dan kejenuhan basa tinggi. Sifat-sifat tanah di tiga lokasi tersebut sangat beragam dengan koefisien keragaman (CV) 23-98%, kecuali pH dan kejenuhan basa (CV , 20%). Uji berpasangan kadar pasir, kadar K2O total dan P2O5 tersedia menunjukkan perbedaan sangat nyata untuk semua pasangan dari tiga lokasi. Berbeda halnya dengan kadar liat, debu, C-organik, KTK tanah dan KTK liat berbeda sangat nyata untuk dua pasangan dari ketiga lokasi, yaitu antara lokasi Lembah Palu dengan pantai utara dan pantai barat. Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa kadar liat lebih erat hubungannya dengan KTK tanah dibandingkan dengan kadar C-organik. Komposisi mineral fraksi pasir didominasi oleh kuarsa dan fragmen batuan, tetapi masih mengandung mineral mudah lapuk cukup tinggi (12-46%), sedangkan komposisi mineral liat merupakan campuran dari smektit dan illit. Potensi kesuburan tanah cukup baik dengan kendala kadar C-organik dan KTK tanah rendah. Pemberian bahan organik seperti pupuk kandang dan sisa-sisa panen sangat dianjurkan untuk meningkatkan KTK tanah dan ketersediaan hara.

Dipublikasi dalam Jurnal Tanah dan Iklim No.25, Juli 2007.

Prospek dan Kendala Pengembangan Kedelai pada Lahan Non Sawah/Lahan Marjinal

Sukarman, Irsal Las dan Achmad Hidayat
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

ABSTRAK

Kedelai telah menjadi salah satu komoditas strategis setelah padi dan jagung karena dibutuhkan dalam jumlah yang besar dan sudah menjadi bahan baku industri. Selama ini produksi kedelai nasional sebagian besar masih bertumpu di lahan sawah. Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai di lahan sawah melalui perluasan areal tanam tidak dapat dioptimalkan karena dapat menggangu produksi padi. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi kedelai adalah melalui perluasan areal tanam di lahan kering non sawah/lahan marjinal. Lahan marjinal merupakan salah satu sumberdaya lahan yang prospektif untuk mendukung pengembangan kedelai, karena masih cukup luas meskipun mempunyai keragaman tingkat potensi yang besar, yaitu dari berpotensi tinggi sampai berpotensi rendah. Diperkirakan masih terdapat sekitar 6,1 juta ha lahan kering yang dapat dimanfaatkan untuk perluasan areal tanam kedelai, yaitu pada tegalan sekitar 0,5 juta hektar dan pada semak, alang-alang dan hutan belukar sekitar 5,6 juta ha. Namun lahan ini pemanfaatannya berkompetisi dengan penggunaan lain baik dengan komoditas pertanian non kedelai maupun dengan non pertanian. Lahan-lahan yang tersedia tergolong jenis tanah Inceptisols, Ultisols, Oxisols dan sedikit Mollisols dan Alfisols. Lahan-lahan tersebut mempunyai kesuburan rendah, bereaksi masam atau terlalu basis, dan berbahan organik rendah. Dalam pemanfaatannya memerlukan teknologi pengelolaan lahan yang optimal, yaitu melalui tindakan konservasi tanah, pengelolaan air, ameliorasi, pengelolaan bahan organik dan pengelolaan hara.

Makalah disampaikan dalam : Lokakarya Kedelai Nasional, Malang 26-27 Juli 2008. Kerjasama Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya dengan Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi).

Peluang Pemanfaatan Sumberdaya Lahan untuk Meningkatkan Produksi Pangan di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur

Sukarman, Hikmatullah dan Ukup Sudriatna
Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat

ABSTRAK

Untuk meningkatkan produksi pangan diperlukan upaya-upaya pengembangan (ektensifikasi) dan peningkatan produktivitas (intensifikasi). Salah satu wilayah di Kawasan Timur Indonesia yang berpotensi untuk pengembangan tanaman pangan adalah Pulau Flores di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian evaluasi lahan telah dilakukan, khususnya untuk padi sawah dan tanaman pangan lahan kering (padi gogo, jagung dan kedelai). Berdasarkan tingkat potensi lahan, penggunaan lahan saat ini (present land use), status hutan dan rencana pengembangan daerah telah dihitung ketersediaan lahan untuk perluasan areal tanaman padi sawah, dan tanaman pangan lahan kering. Lahan pangan yang dapat dikembangkan untuk tanaman padi sawah dan tanaman pangan lahan kering masing-masing seluas 41.220 ha dan 67.790 ha. Lahan sawah dan tanaman pangan yang ada, produktivitasnya masih dapat ditingkatkan dengan masukan dan penerapan teknologi yang optimum.

Kata kunci : sumberdaya lahan, produksi pangan, lahan sawah, tanaman pangan, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Dipublikasikan dalam : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian XVII (4), 1998.

Quality of Semi Detailed Soil Map Delineated of Digital Elevation Models (Case Study in Cigudeg, Bogor District , Indonesia)

Sukarman
Indonesian Center for Agricultural Land Resources Research and Development
(Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian)

ABSTRACT

Objective of the research is to find out capability of Digital Elevation Models (DEMs) in assisting delineation of soil map unit of semi detailed especially in Cidudeg, Bogor District. Soil Mapping applied with landforms approach of the results of DEMs analysis. The DEMs is made of topographic map, scale of 1 : 25.000 with resolution 30 meters. Digitally analysis of landforms utilized elements of slope, gradien, relief, elevation and parent materials. Every landforms units, it is ditermine is soil composition in field. Results of landforms delineation is assumsed same with soil mapping units. The results showed that every landforms has differents soil unit compoisition. The purity of 37 soil mapping units showed that only 34 soil mapping units have purity more than 85 percent. Generally, the DEMs is useful for assisting semi detailed soil mapping delineation and the results of maps have a high quality.

Key words : Digital elevation models (DEMs), semi detailed soil map, map quality

Published : Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia, No. 1 2007. Lembaga Penelitian Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.